Yunietha Lakhiafa

Epileptika

Tujuan Percobaan

2.      Memperoleh gambaran bagaimana manifestasi stimulasi berlebihan itu dapat diatasi.
3.      Sanggup mendiagnosa sebab kematian hewan coba.

Teori Dasar

Antiepileptik

Definisi

Epilepsi adalah suatu penyakit yang ditandai dengan kecenderungan untuk mengalami kejang berulang. Kejang merupakan akibat dari pembebasan listrik yang tidak terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba, terjadi gangguan kesadaran ringan, aktivitas motorik, atau gangguan fenomena sensori. Epilepsi juga merupakan suatu gangguan saraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala, biasanya dengan perubahan kesadaran. Penyebabnya adalah aksi serentak dan mendadak dari sekelompok besar sel-sel saraf di otak. Aksi ini disertai pelepasan muatan listrik. 2% dari penduduk dewasa pernah mengalami kejang. Sepertiga dari kelompok tersebut mengalami epilepsi.

ETIOLOGI

1.         Epilepsi Primer (Idiopatik)

Epilepsi primer hingga kini tidak ditemukan penyebabnya, tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak diduga bahwa terdapat kelainan atau gangguan keseimbangan zat kimiawi dan sel-sel saraf pada area jaringan otak yang abnormal.

2.         Epilepsi Sekunder (Simtomatik.

Epilepsi yang diketahui penyebabnya atau akibat adanya kelainan pada jaringan otak. Kelainan ini dapat disebabkan karena dibawah sejak lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat kerusakan otak pada waktu lahir atau pada masa perkembangan anak, cedera kepala (termasuk cedera selama atau sebelum kelahiran), gangguan metabolisme dan nutrisi (misalnya hipoglikemi, fenilketonuria (PKU), defisiensi vitamin B6), faktor-faktor toksik (putus alkohol, uremia), ensefalitis, anoksia, gangguan sirkulasi, dan neoplasma.

GEJALA
Penyakit Epilepsi
Ada beberapa jenis epilepsi dan yang paling umum adalah bentuk grand mal, petit mal dan temporal.
  1. Grand mal. Cirinya adalah kejang kaku bersama kejutan-kejutan ritmis dari anggota badan dan hilangnya kesadaran untuk sementara. Penderita kadang-kadang menggigit lidahnya sendiri dan juga dapat terjadi inkontinensia urin atau feses.
  2. Petit mal. Cirinya serangan yang singkat, antara beberapa detik sampai setengah menit dengan penurunan kesadaran ringan tanpa kejang-kejang. Gejalanya berupa keadaan termangu-mangu (pikiran kosong, kehilangan respon sesaat), muka pucat, pembicaraan terpotong-potong atau mendadak berhenti mendadak.
  3. Temporal atau psikomotor. Pada serangan parsial ini, kesadaran menurun hanya untuk sebagian tanpa hilangnya ingatan. Penderita memperlihatkan kelakuan tidak sengaja tertentu seperti gerakan menelan atau berjalan dalam lingkaran.
Kejang parsial simplek dimulai dengan muatan listrik di bagian otak tertentu dan muatan ini tetap terbatas di daerah tersebut. Penderita mengalami sensasi, gerakan atau kelainan psikis yang abnormal, tergantung kepada daerah otak yang terkena. Jika terjadi di bagian otak yang mengendalikan gerakan otot lengan kanan, maka lengan kanan akan bergoyang dan mengalami sentakan; jika terjadi pada lobus temporalis anterior sebelah dalam, maka penderita akan mencium bau yang sangat menyenangkan atau sangat tidak menyenangkan. Pada penderita yang mengalami kelainan psikis bisa mengalami dejavu (merasa pernah mengalami keadaan sekarang di masa yang lalu).
Kejang Jacksonian gejalanya dimulai pada satu bagian tubuh tertentu (misalnya tangan atau kaki) dan kemudian menjalar ke anggota gerak, sejalan dengan penyebaran aktivitas listrik diotak.
Kejang parsial (psikomotor) kompleks dimulai dengan hilangnya kontak penderita dengan lingkungan sekitarnya selama 1-2 menit. Penderita menjadi goyah, menggerakkan lengan dan tungkainya dengan cara yang aneh dan tanpa tujuan, mengeluarkan suara-suara yang tak berarti, tidak mampu memahami apa yang orang lain katakan dan menolak bantuan. Kebingungan berlangsung selama beberapa menit, dan diikuti dengan penyembuhan total.
Kejang konvulsif (kejang tonik-klonik, grand mal) biasanya dimulai dengan kelainan muatan listrik pada daerah otak yang terbatas. Muatan listrik ini segera menyebar ke daerah otak lainnya dan menyebabkan seluruh daerah mengalami kelainan fungsi. Pada kejang konvulsif, terjadi penurunan kesadaran sementara, kejang otot yang hebat dan sentakan-sentakan di seluruh tubuh, kepala berpaling ke satu sisi, gigi dikatupkan kuat-kuat dan hilangnya pengendalian kandung kemih. Sesudahnya penderita bisa mengalami sakit kepala, linglung sementara dan merasa sangat lelah. Biasanya penderita tidak dapat mengingat apa yang terjadi selama kejang.
Epilepsi primer generalisata ditandai dengan muatan listrik abnormal di daerah otak yang luas, yang sejak awal menyebabkan penyebaran kelainan fungsi.
Pada kedua jenis epilepsi ini terjadi kejang sebagai reaksi tubuh terhadap muatan yang abnormal.

Kejang petit mal dimulai pada masa kanak-kanak, biasanya sebelum usia 5 tahun.
Tidak terjadi kejang dan gejala dramatis lainnya dari grand mal. Penderita hanya menatap, kelopak matanya bergetar atau otot wajahnya berkedut-kedut selama 10-30 detik. Penderita tidak
memberikan respon terhadap sekitarnya tetapi tidak terjatuh, pingsan maupun menyentak-nyentak.
Status epileptikus merupakan kejang yang paling serius, dimana kejang terjadi terus menerus, tidak berhenti. Kontraksi otot sangat kuat, tidak mampu bernafas sebagaimana mestinya dan muatan listrik di dalam otaknya menyebar luas. Jika tidak segera ditangani, bisa terjadi kerusakan jantung dan otak yang menetap dan penderita bisa meninggal.

Gejala kejang berdasarkan sisi otak yang terkena
Sisi otak yg terkena
Gejala
Lobus frontalis
Kedutan pada otot tertentu
Lobus oksipitalis
Halusinasi kilauan cahaya
Lobus parietalis
Mati rasa atau kesemutan di bagian tubuh tertentu
Lobus temporalis
Halusinasi gambaran dan perilaku repetitif yang kompleks
misalnya berjalan berputar-putar
Lobus temporalis anterior
Gerakan mengunyah, gerakan bibir mencium
Lobus temporalis anterior sebelah dalam
Halusinasi bau, baik yg menyenangkan maupun yg tidak menyenangkan

PENGOBATAN
Ada dua mekanisme obat epilepsi yang penting yaitu dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dan dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.
Obat epilepsi digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi (epileptic seizure). Golongan obat ini lebih tepat dinamakan antiepilepsi; sebab obat ini jarang digunakan untuk gejala kejang/konvulsi penyakit lain.
Pasien perlu berobat secara teratur. Pasien atau keluarganya dianjurkan untuk membuat catatan tentang datangnya waktu bangkitan epilepsi. Pemeriksaan neurologik disertai EEG perlu dilakukan secara berkala. Di samping itu perlu berbagai pemeriksaan lain untuk mendeteksi timbulnya efek samping sedini mungkin yang dapat merugikan, antara lain pemeriksaan darah, kimia darah, maupun kadar obat dalam darah.
Fenitoin dan karbamazepin merupakan obat pilihan utama untuk pengobatan epilepsi kecuali terhadap epilepsi petit mal.  Jika penyebabnya adalah tumor, infeksi atau kadar gula maupun natrium yang abnormal, maka keadaan tersebut harus diobati terlebih dahulu. Jika keadaan tersebut sudah teratasi, maka kejangnya sendiri tidak memerlukan pengobatan.
Jika penyebabnya tidak dapat disembuhkan atau dikendalikan secara total, maka diperlukan obat anti-kejang untuk mencegah terjadinya kejang lanjutan. Sekitar sepertiga penderita mengalami kejang kambuhan, sisanya biasanya hanya mengalami 1 kali serangan. Obat-obatan biasanya diberikan kepada penderita yang mengalami kejang kambuhan.
Status epileptikus merupakan keadaan darurat, karena itu obat anti-kejang diberikan dalam dosis tinggi secara intravena. Obat anti-kejang sangat efektif, tetapi juga bisa menimbulkan efek samping. Salah satu diantaranya adalah menimbulkan kantuk, sedangkan pada anak-anak menyebabkan hiperaktivitas. Dilakukan pemeriksaan darah secara rutin untuk memantau fungsi ginjal, hati dan sel -sel darah. Obat anti-kejang diminum berdasarkan resep dari dokter. Pemakaian obat lain bersamaan dengan obat anti-kejang harus seizin dan sepengetahuan dokter, karena bisa merubah jumlah obat anti-kejang di dalam darah.  Keluarga penderita hendaknya dilatih untuk membantu penderita jika terjadi serangan epilepsi. Langkah yang penting adalah menjaga agar penderita tidak terjatuh, melonggarkan pakaiannya (terutama di daerah leher) dan memasang bantal di bawah kepala penderita. Jika penderita tidak sadarkan diri, sebaiknya posisinya dimiringkan agar lebih mudah bernafas dan tidak boleh ditinggalkan sendirian sampai benar-benar sadar dan bisa bergerak secara normal.
Jika ditemukan kelainan otak yang terbatas, biasanya dilakukan pembedahan untuk mengangkat serat-serat saraf yang menghubungkan kedua sisi otak (korpus kalosum). Pembedahan dilakukan jika obat tidak berhasil mengatasi epilepsi atau efek sampingnya tidak dapat ditoleransi.

Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati kejang
Obat
Jenis epilepsi
Efek samping yg mungkin terjadi
Generalisata, parsial
Jumlah sel darah putih & sel darah merah berkurang
Etoksimid
Petit mal
Jumlah sel darah putih & sel darah merah berkurang
Parsial
Tenang
Generalisata, parsial
Ruam kulit
Generalisata, parsial
Tenang
Generalisata, parsial
Pembengkakan gusi
Generalisata, parsial
Tenang
Kejang infantil, petit mal
Penambahan berat badan, rambut rontok
Obat saraf golongan antikonvulsan / obat epilepsi
Obat antikonvulsi atau antiepilepsi berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi 2 yaitu
  1. Dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi
  2. Dengan mencegah terjadnya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi.

DIAZEPAM

Diazepam (Farmakope Indonesia edisi ketiga 1979;hal  211)
Sinonim: 7-klor 1-3 dihidro 1-metil 5-fenil 2H 1,4 benzoldiazepin 2-on.
Rumus molekul: C16H13ClN2O
 
Berat molekul: 284,74

Diazepam mengandung tidak kurang dari 99% dan tidak lebih dari 101% C16H13ClN2O dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.

Profil Farmakokinetika

  •  Absorpsi: Jika digunakan untuk mengobati ansietas atau gangguan tidur, hipnotik-sedatif biasanya diberikan peroral. Benzodiazepin merupakan obat-obat basa lemah dan diabsorpsi sangat efektif pada PH tinggi yang ditemukan dalam duodenum. Kecepatan absorpsi benzodiazepine yang diberikan per oral berbeda tergantung pada beberapa factor termasuk sifat kelarutannya dalam lemak.
  • Distribusi: Transpor hipnotik sedative didalam darah adalah proses dinamika dimana banyaknya molekul obat masuk dan meninggalkan jaringan tergantung pada aliran darah, tingginya konsentrasi, dan permeabilitas. Plasma (perbandingan dalam darah) Diazepam 1,8 dan DMDZ 1,7.Ikatan Protein : Diazepam 98 - 99% dan DMDZ 97%. Didistribusi secara luas. Menembus sawar darah otak. Menembus plasenta dan memasuki ASI.
  • Biotransformasi: Metabolisme hati yang bertanggung jawab terhadap pembersihan atau eliminasi dari semua benzodiazepine. Beberapa produk metabolismenya bersifat aktif sebagai depresan SSP. Metabolit klinis yang signifikan : Desmetildiazepam (DMDZ) , temazepam & oksazepam.
  • Ekskresi: Metabolit benzodiazepine dan hipnotik-sedatif lain yang larut dalam air diekskresikan terutama melalui ginjal.
Diazepam diabsorpsi dengan cepat secara lengkap setelah pemberian peroral dan puncak konsentrasi dalam plasmanya dicapai pada menit ke 15-90 pada dewasa dan menit ke-30 pada anak-anak. Perbedaan jenis kelamin juga harus dipertimbangkan. Bioavailabilitas obat dalam bentuk sediaan tablet adalah 100%. Range t1/2  diazepam antara 20-100 jam dengan rata-rata t1/2-nya adalah 30 jam. Metabolisme utama diazepam berada di hepar, menghasilkan tiga metabolit aktif. Enzim utama yang digunakan dalam metabolisme diazepam adalah CYP2C19 dan CYP3A4. N-Desmetildiazepam (nordiazepam) merupakan salah satu metabolit yang memiliki efek farmakologis yang sama dengan diazepam, dimana t1/2-nya lebih panjang yaitu antara 30-200 jam. Ketika diazepam dimetabolisme oleh enzim CYP2C19 menjadi nordiazepam, terjadilah proses N-dealkilasi. Pada fase eliminasi baik pada terapi dosis tunggal maupun multi dosis, konsentrasi N-Desmetildiazepam dalam plasma lebih tinggi dari diazepam sendiri. N-Desmetildiazepam  dengan bantuan enzim CYP3A4 diubah menjadi oxazepam, suatu metabolit aktif yang dieliminasi dari tubuh melalui proses glukuronidasi. Oxazepam memiliki estimasi t1/2 antara 5-15 jam. Metabolit yang ketiga adalah Temazepam dengan estimasi t1/2 antara 10-20 jam. Temazepam dimetabolisme dengan bantuan enzim CYP3A4 dan CYP 3A5 serta mengalami konjugasi dengan asam glukuronat sebelum dieliminasi dari tubuh.
Diazepam secara cepat terdistribusi dalam tubuh karena bersifat lipid-soluble, volume distribusinya 1,1L/kg, dengan tingkat pengikatan pada albumin dalam plasma sebesar (98-99%). Diazepam diekskresikan melalui air susu dan dapat menembus barier plasenta, karena itu penggunaan untuk ibu hamil dan menyusui sebisa mungkin dihindari.  Di dalam tubuh embrio bahan metabolit tersebut berpotensi menginhibisi neuron, meningkatkan pH di dalam sel, dapat bersifat toksik. Dengan terinhibisinya neuron maka akan terganggu pula transfer neurotransmiter untuk hormon-hormon pertumbuhan, sehingga mengakibatkan pertumbuhan embrio yang lambat. Dengan pH yang tinggi mengakibatkan sel tidak dapat tereksitasi, sehingga kerja hormon pertumbuhan juga terganggu yang akhirnya pertumbuhan janin juga terganggu. Pada trimester pertama masa kehamilan merupakan periode kritis maka bahan teratogen yang bersifat toksik akan mempengaruhi pertumbuhan embrio, bahkan dapat mengakibatkan kematian janin.Efek samping ringan Diazepam dapat terjadi pada konsentrasi plasma mencapai 50-100μg/L, tetapi ini juga tergantung pada sensitivitas setiap individual. Efek anxiolitik terlihat pada penggunaan secara long-term dengan konsentrasi 300-400μg/L. Diazepam ini tidak boleh digunakan dalam jangka waktu yang panjang (tidak boleh lebih dari 3 bulan), karena berakibat buruk bagi tubuh penderita. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena t1/2 diazepam yang cukup panjang, ditambah lagi t1/2 N-Desmetildiazepam yang lebih panjang yaitu,  2 kali t1/2 Diazepam. Hal ini berarti setelah konsentrasi diazepam dalam tubuh habis untuk menghasilkan efek, masih dapat dihasilkan efek bahkan sebesar 2 kalinya yang diperoleh dari N-Desmetildiazepam sebagai metabolit aktif diazepam.  Ditambah lagi persentase metabolit yang terikat protein dalam plasma (97%), lebih sedikit daripada prosentase diazepam yang terikat protein plasma (98%-99%). Oleh karena itu penggunaan diazepam dalam terapi pengobatan harus ekstra berhati-hati, yaitu perlu dipertimbangkan adanya efek yang ditimbulkan oleh metabolit aktif Diazepam, untuk itu mungkin perlu dilakukan kontrol terhadap konsentrasi diazepam dan metabolitnya dalam plasma.          

Farmakodinamik

(Katzung, Bertram G. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC)
·         Mekanisme kerja:
Pengikatan GABA (asam gama aminobutirat) ke reseptornya pada membrane sel akan membuka salutan klorida, meningkatkan efek konduksi korida. Aliran ion klorida yang masuk menyebabkan hiperpolarisasi lemah menurunkan potensi postsinaptik dari ambang letup dan meniadakan pembentukan kerja potensial. Benzodiazepin terikat pada sisi spesifik dan berafinitas tinggi dari membrane sel, yang terpisah tetapi dekat reseptor GABA. Reseptor benzodiazepine terdapat hanya pada SSP dan lokasinya sejajar dengan neuron GABA. Peningkatan benzodiazepine memacu afinitas reseptor GABA untuk neurotransmitter yang bersangkutan, sehingga saluran klorida yang berdekatan lebih sering terbuka. Keadaan tersebut akan memacu hiperpolarisasi dan menghambat letupan neuron. (Mycek, 2001) Diazepam bekerja pada reseptor di otak yang disebut reseptor GABA. Hal ini menyebabkan pelepasan neurotransmitter yang disebut GABA di dalam otak.

Neurotransmiter merupakan bahan kimia yang disimpan dalam sel-sel saraf di otak dan sistem saraf. Mereka yang terlibat dalam transmisi pesan antara sel saraf. GABA adalah neurotransmitter yang berfungsi sebagai alami 'saraf-menenangkan' agen. Ini membantu menjaga aktivitas saraf di otak seimbang, dan terlibat dalam mendorong kantuk, mengurangi kecemasan dan relaksasi otot.
Sebagai diazepam meningkatkan aktivitas GABA dalam otak, meningkatkan efek menenangkan dan hasil dalam kantuk, penurunan kecemasan dan relaksasi otot.
·         Efek terhadap organ
a.     Sedasi: Sedasi dapat didefinisikan sebagai penurunan respons terhadap tingkat stimulus yang tetap dengan penurunan dalam aktivitas dan ide spontan. Perubahan tingkah laku ini terjadi pada dosis efektif hipnotik sedative yang terendah.
b.  Hipnotis: Berdasarkan definisi, semua hipnoik sedative akan menyebabkan tidur jika diberikan pada dosis yang cukup tinggi.
c.  Anastesi: Benzodiazepin tertentu, termasuk diazepam dan midazolam telah digunakan secara intravena dala anastesi. Benzodiazepin yang digunakan dalam dosis tinggi sebagai pembantu untuk anastesi umum, bisa menyebabkan menetapnya depresi respirasi pasca anastesi. Hal ini mungkin berhubungan dengan waktu paruhnya yang relative lama dan pembentukan metabolit aktif.
d.  Efek antikonvulsi: Kebanyakan hipnotik sedative sanggup menghambat perkembangan dan penyebaran aktivitas epileptiformis dalam susunan saraf pusat. Ada sejumlah selektivitas pada obat tertentu yang dapat menimbulkan efek antikonvulsi tanpa depresi susunan saraf pusat yang jelas sehingga aktivitas fisik dan mental relative tidak dipengaruhi. Diazepam mempunyai kerja selektif yang berguna di klinik untuk menanggulangi keadaan bangkitan kejang.
e.     Relaksasi otot: Benzodiazepin merelaksasi otot volunter yang berkontraksi pada penyakit sendi atau spasme otot. 
f.        Efek pada fungsi respirasi dan kardiovaskular: Pada dosis terapeutik dapat menimbulkan depresi pernapasan pada penderita paru obstruksi. 

AMINOPHYLLIN


NAMA DAGANG              : Amicain, Aminophyllinum, Phyllocontin
Cara pemberian :
  1. Oral : dapat digunakan bersama dengan makanan
  2. Intravenous:
             * Dapat diberikan dengan injeksi lambat IV bolus atau dapat diberikan dengan IV infus   
             * Jangan dicampur dengan obat lain didalam syringe
                * Hindari penggunaan obat-obat yang tidak stabil dalam suasana asam bersamaan dengan aminofilin
              * Jangan digunakan jika terdapat kristal yang terpisah dari larutan
              * Jangan digunakan jika larutan tidak jernih.
DOSIS :
Dewasa : Asma akut berat yang memburuk dan belum mendapat terapi dengan Teofilin. Injeksi IV pelan : 250-500mg (5 mg/kg) (diinjeksikan lebih dari 20 menit) dengan monitoring ketat, selanjutnya dapat diikuti dengan dosis pada asma akut berat.
Dewasa : Asma akut berat : IV infus 500 mcg/kg/jam (dengan monitoring ketat) disesuaikan dengan konsentrasi plasma Teofilin.
Anak-anak : Asma akut berat yang memburuk dan belum mendapat terapi dengan Teofilin. Injeksi IV pelan : 5 mg/kg (diinjeksikan lebih dari 20 menit)  dengan monitoring ketat, selanjutnya dapat diikuti dengan dosis pada asma akut berat.
Anak-anak : Asma akut berat: IV infus: anak usia 6 bulan - 9 tahun 1mg/kg/jam anak usia 10 - 16 tahun 800 mcg/kg/jam disesuaikan dengan konsentrasi teofilin dalam plasma.
Efek samping serius : Cardiovascular : Atrial fibrilasi, Bradiaritmia apabila administrasi terlalu cepat dapat menyebabkan Cardiac arrest, Takiaritmia Dermatologic : Erythroderma; Gastrointestinal : Necrotizing enterocolitis in fetus OR newborn; Immunologic : Immune hypersensitivity reaction; Neurologic : perdarahan pada intracranial, kejang.
INTERAKSI
Dengan Obat Lain :
Obat-obat yang dapat meningkatkan kadar Teofilin: Propanolol, Allopurinol (>600mg/day), Erythromycin, Cimetidin, Troleandomycin, Ciprofloxacin (golongan Quinolon yang lain), kontrasepsi oral, Beta-Blocker, Calcium Channel Blocker, Kortikosteroid, Disulfiram, Efedrin, Vaksin Influenza, Interferon, Makrolida, Mexiletine, Thiabendazole, Hormon Thyroid, Carbamazepine, Isoniazid, Loop diuretics. Obat lain yang dapat menghambat Cytochrome P450 1A2, seperti: Amiodaron, Fluxosamine, Ketoconazole, Antibiotik Quinolon).
Obat-obat yang dapat menurunkan kadar Teofilin: Phenytoin, obat-obat yang dapat menginduksi CYP 1A2 (seperti: Aminoglutethimide, Phenobarbital, Carbamazepine, Rifampin), Ritonavir, IV Isoproterenol, Barbiturate, Hydantoin, Ketoconazole, Sulfinpyrazone, Isoniazid, Loop Diuretic, Sympathomimetics.
Dengan Makanan :
Hindari konsumsi Caffein yang berlebihan. Hindari diet protein dan karbohidrat yang berlebihan. Batasi konsumsi charcoal-broiled foods
MEKANISME KERJA
Teofilin, sebagai bronkodilator, memiliki 2 mekanisme aksi utama di paru yaitu dengan cara relaksasi otot polos dan menekan stimulan yang terdapat pada jalan nafas (suppression of airway stimuli). Mekanisme aksi yang utama belum diketahui secara pasti. Diduga efek bronkodilasi disebabkan oleh adanya penghambatan 2 isoenzim yaitu phosphodiesterase (PDE III) dan PDE IV. Sedangkan efek selain bronkodilasi berhubungan dengan aktivitas molekular yang lain. Teofilin juga dapat meningkatkan kontraksi otot diafragma dengan cara peningkatan uptake Ca melalui Adenosin-mediated Chanels

Pembahasan
 
Pada praktikum kali ini tentang  memahami stimulasi sistem saraf  pusat dan antiepileptika serta mendiagnosa sebab kematian hewan percobaan. Dimana disini yang di gunakan sebagai hewan percobaan adalah mencit. Obat yang efek utamanya terhadap susunan saraf pusat yaitu stimulasi susunan saraf pusat dan antiepileptikum.
Pada stimulan susunan saraf pusat beberapa obat memperlihatkan efek perangsang susunan saraf pusat yang nyata dalam dosis toksik, sedangkan obat lain memperlihatkan efek perangsangan SSP sebagai efek samping.
                 Sedangkan Epilepsi dari bahasa yunanii adalah seragan atau sawan adalah suatu gangguan saraf yang timbul secara tiba-tiba dan berkala, biasanya dengan perubahan kesadaran. Penyebabnya adalah aksi serentak dan mendadak dari sekelompok besar sel-sel saraf di otak. Aksi ini disertai pelepasan muatan listrik yang berlebihan dari neuron-neuron tersebut. Lazimnya pelepasan muatan listrik ini terjadi secara teratur dan terbatas dalam kelompok-kelompok kecil, yang memberikan ritme normal pada elektroencefalogram (EEG).
Epilepsi dikelompokkan menjadi 2 kelompok besar :
a.       Parsial
·         Parsial Sederhana
·         Parsial komplek
b.      Generalisata
·         Tonik Klonik (Grand mal)
·         Absence (Petit mal)
Pada pecobaan kali ini obat yang kita gunakan adalah Aminofilin yang merupakan turunan dari teophilin yang bersifat menstimulasi sistem saraf pusat, sampai batas tertentu sifat ini dapat diterapkan untuk mengatasi depresi sistem saraf pusat yang berlebihan. Dimana jika  dosis yang di berikan tinggi pada makhluk hidup mengakibatkan kejang tonik dan klonik. Dan jga obat  Diazepam, salah satu Benzodiazepin, relaksan otot yang bekerja sentral khususnya refleks polisinaptik di sumsum tulang belakang dan mengurangi aktivitas neuron sistem retikular di mesensefalon, hingga Diazepam dapat digunakan untuk mengatasi kejangan yang disebabkan Aminofilin.
Untuk masing-masing kelompok dosis yang diberikan berbeda-beda. Dosis yang di berikan dari dosis yang rendah sampai dosis yang tinggi. Dosis diazepam yang di gunakan adalah 10 mg/kgBB untuk semua kelompok, sedangkan untuk Aminofilinnya diberikan berbeda-beda pada tiap kelompok.  Untuk kelompok kami menggunakan dosis aminofilin 250 mg/kgBB dan [] nya 24 mg/ml. Pada percobaan ini hewan yang digunakan adalah 2 ekor mencit.
Pada prosedur pengerjaan setiap mencit ditimbang dan dihtung VAO nya. Kemudian disuntikkan obatnya. Untuk penyuntikan dilakukan dengan 2 cara penyuntikan, yang pertama  mencit hanya disuntik menggunakan Aminofilin saja, yang kedua mencit disuntik dulu dengan Diazepam kemudian setelah 10 menit baru disunti dengan Aminofilin. Kemudian diamati apa yang terjadi.
Untuk kelompok 1, 2 dosis Aminofilin yang digunakan  yaitu 200 mg/kgbb, kelompok 3 dan 4 dosis Aminofilin yang digunakan  yaitu 250 mg/kgbb, kelompok 5 dan 6 dosis Aminofilin yang digunakan yaitu 350 mg/kgbb. Untuk  kelompok 1, 2 dan 3  mencit yang disuntikan dengan Diazepam +  Aminofilin tidak ada yang mati,  begitu pula yang hanya disuntikan dengan Aminofilin saja, ini disebabkan karena dosis Aminofilin yang di berikan ke mencit adalah dosis rendah, tapi pada kelompok 4 biarpun dosis yang diberikan rendah, untuk mencit yang disuntikan dengan Aminofilin mencitnya mati. Kemungkinan ini juga disebabkan oleh mencit kelompok 4 pada penyuntikan Diazepam nya tidak masuk atau karena salah dalam prosedur penyuntikan.
Untuk kelompok kami, yaitu kelompok 3. Pada mencit ke 1 disuntikan dengan Aminofilin sebanyak 0,34. Pada tiap menit yang telah diamati, Mencit tenang berjalan sempoyongan, Detak jantung berdegub kencang, Detak jantung semakin cepat, gelisah, mudah terkejut, Seluruh badan menggigil, sesekali mengalami kejang, Kelopak mata mencit mengecil, sulit berjalan, kejang2 semakin sering, Kelopak mata masih kecil, tetapi degub jantung mulai stabil, Degub Jantung stabil, tidak lagi menggigil, tetapi  masih lemah.
Pada mencit ke 2 disuntiikan dengan Diazepam terlebih dahulu sebanyak 0.077 setelah 10 disuntik dengan Aminofilin sebanyak 0,401. Pada mencit setelah disuntik dengan Diazepam pada setiap menit yang diamati mencit mulai tenang, bernafas dengan cepat dan lama kelamaan sangat tenang. Setelah menit ke 10 mencit disuntik dengan Aminofilin, pada tiap detik yang diamati, pada menit ke 13 mencit awalnya diam, diberi rangsangan masiih merespon,pada menit ke 16 mencit mulai gelisah, berjalan sempoyongan dan bernafas dengan cepat, menit ke 18 nafas semakin cepat di beri rangsangan takut, menit ke 48 mencit mulai gemetaran dan nafas semakin lebih cepat (Tremor), dan setelah 1 jam mencit kembali normal.
Sedangkan kelompok 5 dan 6  diberikan dosis yang lebih tinggi dari kelompok 1, 2, 3, dan 4.  Untuk kelompok 5 mencit 1 yang disuntik dengan Aminofilin saja mati,  waktu nya juga berlangsung dengan cepat, ini disebabkan mencit kelompok 5 ini memang sudah tidak sehat lagi, jadi proses dari reaksi obat juga cepat, sedangkan mencit 2 yang disuntikan dengan Diazepam + Aminofilin awalnya masih bertahan hidup, tapi  setelah beberapa menit mencitnya mati. Ini sama halnya dengan mencit yang 1, karena kondisi mencit sendiri memang sudah sakit.  untuk kelompok 6 mencit 1 yang disuntik dengan Diazepam + Aminofilin juga mati, sedangkan mencit 2 yang disuntikan dengan Aminofilin saja  juga mati dengan waktu yang sangat cepat.
Pada hasil pengamatan dapat disimpulkan, Untuk kelompok 5 dan 6 mencitnya termasuk kedalam jenis epilepsi Grand mal, dengan bercirikan kejang kaku bersamaan dengan kejutan-kejutan ritmis dari anggota badan dan hilangnya  untuk sementara kesadaran dan tonus, bernafas semakin cepat.  Dimana terjadinya kejang tonik yang kemudian di ikuti kejang klonik. Untuk kejang tonik ini terjadi dengan bercirikan bernafas dengan cepat, kejang dengan kejutan-kejutan ritmis setelah itu baru terjadi kejang klonik yang terjedi setelah kejang tonik dimana bernafasnya  sangat cepat, kejangnya tidak berhenti, kesadaran sudah hilang, dan mata sudah menutup.
Untuk kelompok 1, 2, 3 dan 4 mencitnya termasuk dalam jenis epilepsi Parsial, dengan bercirikan tidak kehilangan kesadaran, kesadarannya hanya menurun untuk sebagian tanpa hilangnya ingatan, dengan memperlihatkan kelakuan otomatis tertentu seperti berjalan linglung, aktivitas abnormal dari bagian badan atau kelompok otot-otot tertentu, gangguan fungsi motorik gerakan menyunyah, diare dan urinasi.
Dari semua percobaan yang dilakukan pada hewan percobaan, Diazepam ini menghambat aktivitas bangkitan yang di induksi oleh Aminofilin dan memaksimalkan aktivitas gerakan otot. Dimana mekanisme kerjanya merupakan potensial inhibisi neuron dengan GABA sebagai mediatornya. Dimana setelah disuntikan  Diazepam dan 10 menit kemudian di suntikan Aminofilin dengan dosis rendah mencit tidak mati hanya mengalami tremor saja. Sedangkan jika di berikan dalam dosis yang besar mencit mati. Untuk mencit yang disuntikan langsung dengan Aminofilin dengan dosis yang rendah mencit tidak mati hanya tremor saja, sedangkan jika disuntikan dengan dosis tinggi mencit mati.
Penggunaan Diazepam itu sendiri yaitu untuk mengatasi kejangan yang disebabkan Aminofilin. Diazepam merupakan relaksan otot yang bekerja sentral khususnya refleks polisinaptik disumsum tulang belakang dan mengurangi aktivitas neuron sistem retikular di mesensefalon. Sedangkan Aminofilin sendiri untuk obat asma. Dimana jika diberikan pada dosis yang tinggi pada makhluk hidup mangakibatkan kejang tonik dan klonik. Kematian dapat terjadi kejangan tonik yang meliputi keseluruhan otot kerangka, termasuk otot pernafasan berlangsung lama, sehingga kematian bisa terjadi  akibat tidak bisa bernafas. 
Penggunaan Diazepam dengan dosis yang diberikan 10 mg/kgBB ini untuk kelompok 5 dan 6 tidak juga bisa mengatasi kekejang akibat disuntikan Aminofilin. ini terjadi karena dosis Aminofilin  yang diberikan tinggi sedangkan dosis Diazepam yang di berikan rendah, sehingga kekejangan yang terjadi tidak bisa diatasi. Sedangkan kelompok 1, 2, 3, dan 4 dosis yang di berikan seimbang sehingga Diazepam bisa mengatasi  kekejangan yang terjadi  yang disebabkan oleh Aminofiilin.



Kesimpulan
1.       Pada Rentang Dosis Lazim,obat-obat yang bersifat stimulan psikomotor dari SSP dapat diterapkan untuk mengatasi depresi sistem saraf pusat yang berlebihan, Namun dengan pemberian dalam dosis tinggi pada makhluk hidup dapat mengakibatkan toxic dan letal dosis , dimana manifestasinya dapat berupa kejang parsial,generalisata (tonik dan klonik). Contohnya seperti Aminofilin.
2.       Untuk mengurangi,menahan atau mengatasi manifestasi berlebihan tersebut dapat diberikan obat antiepileptik ataupun yang dapat menghasilkan efek ansiolitik, sedatif, hipnotik, relaksan otot skelet dan antikonvulsan seperti Diazepam .
3.       Kematian dari Hewan coba (mencit) dikarenakan Dosis berlebihan dari stimulan psikomotor sehingga mengakibatkan terjadinya kejang tonik yang meliputi keseluruhan otot kerangka termasuk otot pernafasan,sehingga kematian terjadi karena akibat tidak bisa bernafas.
4.       Mencit 1 dengan pemberian dosis Diazepam terlebih dahulu lalu pemberian dosis berlebih Aminofilin untuk kelompok 1,2,3&4 efek yang ditimbulkan hanya tremor dan ataksia sedangkan untuk kelompok 5&6 mulanya efek yang ditimbulkan tremor dan hilangnya kesadaran namun setelah agak lama baru mengalami  kejang dengan kecepatan kejang yang lebih cepat ,waktu mula timbulnya kejang juga lebih cepat, kejang yang dialami merupakan kejang parsial komplek bahkan mengalami kejang generalisata (Tonik Klonik dan Absence) dan mati.
5.       Mencit 2 dengan pemberian dosis berlebih dari Aminofilin mengalami kejang waktu yang lebih lama dengan kecepatan kejang yang lebih cepat ,waktu mula timbulnya kejang juga lebih cepat, kejang yang dialami merupakan kejang parsial komplek bahkan mengalami kejang generalisata (Tonik Klonik dan Absence) dan mati.







Daftar Pustaka
1.       Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI.2008. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
2.       Mutschler, E., 1991, Dinamika Obat,.Bandung: ITB
3.       Tjay, Tan Hoan, Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting Edisi 6 . Jakarta : PT. Elex Media Komputindo
5.       http://repository.ui.ac.id (diakses pada 23 April 2011)

0 Responses